Mengistighfari Kemenangan Kita

Selain bertahmid memuji Nya, ternyata kita juga diperintahkan untuk Istighfar saat mendapat kemenangan
Ilustrasi France Celebrates World Cup Win on The Daily Star
Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah, setelah perang usai beliau tinggal dulu selama tiga hari untuk membereskan semua urusan, baru setelah itu beliau dan pasukannya pulang.

Tapi sebelum beliau dan para sahabat pulang ternyata timbul masalah terkait pembagian ghanimah (harta rampasan perang).

Hal yang menjadi masalah adalah masing-masing kelompok merasa paling berhak untuk mendapatkan sebagian besar ghanimah karena merasa paling berjasa dalam kontribusi memenangkan peperangan.

Mereka terbagi menjadi tiga kelompok :

Kelompok yang pertama, ialah para sahabat yang bertugas sebagai pasukan garda depan dalam mengusir musuh. Mereka merasa paling berjasa karena mereka berhasil memecundangi dan mengusir musuh sehingga kalah dan lari tunggang langgang dari medan peperangan.

Kelompok kedua, adalah pasukan yang berada di posisi tengah. Mereka merasa bahwa merekalah yang paling berjasa mengumpulkan sekian banyak ghanimah yang ditinggalkan oleh pasukan Quraisy.

Dan kelompok ketiga, mereka ialah pasukan yang ditugaskan khusus untuk menjaga keselamatan Rasulullah. Kelompok ini merasa merekalah yang paling berjasa karena telah berhasil menjaga Rasulullah dari serangan musuh. Oleh karenanya merekalah yang paling berhak mendapatkan pembagian ghanimah yang paling banyak.

Peristiwa ini terjadi pada masa kenabian ditengah sahabat kaum Muhajirin dan Anshar. Kaum terbaik dibawah bimbingan langsung Rasulullah Muhammad SAW. Tapi bagaimanapun mereka juga manusia biasa yang ketika diuji dengan adanya ghanimah, mereka juga bisa melakukan kekhilafan. Saling berebut dan tak saling menghormati antara satu dengan lainnya.

Cukuplah kisah ini menjadi pengingat dan nasihat bagi kita bahwa kemenangan, harta dan segala gemerlapnya dunia dapat menyilaukan siapapun tanpa terkecuali.

Jika para sahabat yang dibimbing langsung oleh Rasulullah saja masih mungkin tertipu oleh fitnah dunia, bagaimana dengan kita?

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa.

Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak bertasbih dan istighfar saat mendapatkan nikmat dan kemenangan. Sebab ada perintah istighfar surat tentang kemenangan atas penaklukan kota Makkah, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."

"Maka bertasbihlah, dengan memuji kebesaran Tuhanmu dan mintalah ampunan kepadaNya. Sungguh Ia maha menerima taubat” ( QS An-Nashr )

Dalam setiap kemenangan, selazimnya kita mengucap “Alhamdulillah”. Tapi, di dalam setiap keberhasilan itu juga selalu ada ‘sisi kegagalan’, ada bagian dari kelemahan kemanusiaan kita yang bermain off limits.

Di balik semua keberhasilan, ada suka-duka, ada jatuh-bangun, ada bermacam-macam situasi sulit yang kerap membuat kita terlempar jalur’, bahkan mungkin ‘luka-luka', tak jarang hampir saling membunuh dengan sesama. Itu semua perlu dikoreksi, ditata-ulang, dibenahi, dibersihkan. Istighfar, memohon ampun, bertaubat dari segala luput dan nafsu kita adalah sarana koreksi, pembenahan dan pembersihan.

Dengan begitu, kita bisa benar-benar menghayati apa makna keberhasilan dan untuk apa keberhasilan. Bukan untuk diburu setengah mati, lalu untuk dibanggakan ketika teraih, atau dikutuk ketika lepas, apalagi disalahgunakan ketika sudah tergenggam.
(0)

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel