Menececap Keberanian H.O.S Tjokroaminoto

Gagasan Zelfbestur dalam pidato HOS Tjokroaminoto merupakan inspirasi kemerdekaan Indonesia.

    Ilustrasi : Intermediet
    Sepeninggal Dipenogoro hingga awal abad 20, tidak ada lagi kepemimpinan pribumi yang terpusat di Jawa. Tidak ada upaya strategis yang bisa diperbuat masyarakat pribumi agar terlepas dari cengkeraman pemerintahan penjajah. Semua priyayi dan bangsawan telah jadi hamba dari kolonial Belanda, terekrut dan digaji.

    Penjajahan tak berkesudahan yang berlangsung hampir lebih dari tiga abad itu membuat rakyat pribumi mengalami kepasrahan kronis yang nyaris tak terselamatkan. Mereka menakdirkan dirinya sendiri sebagai orang rendahan yang tak sejajar berhadapan dengan bangsa Belanda. Orang-orang pribumi kala itu dipandang sebelah mata sebagai ‘seperempat manusia.’

    Memang politik etis membuka kesempatan pribumi dari kalangan priyayi untuk memperoleh pendidikan modern ala Belanda, tapi pendidikan ini bukan untuk tujuan mencerdaskan bangsa pribumi, tetapi membuat mereka menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam sistem ekonomi kolonial. Meski demikian, bagi orang pribumi, pendidikan tersebut mampu menjadi pendongkrak status sosial dan dianggap menjanjikan bagi masa depan. Mental ambtenaar atau priyayi yang memihak penjajah semakin menjadi-jadi, trah kebangsawanan kehilangan kehormatannya karena menjadi cecunguk pelaksana pemerintah Belanda.

    Hingga Tuhan menakdirkam munculnya sosok Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, seorang ningrat yang menolak untuk pasrah terhadap ketidakadilan. Ditanggalkannya simbol priyayi, pangkat dan zona nyaman untuk melakukan gerakan penyadaran menuju masyarakat bermartabat. Tjokroaminoto hadir ditengah kerinduan akan hadirnya pemimpin dan ratu adil yang membela hak-hak rakyat kecil.

    Tjokro mengambil peran yang ditakdirkan Tuhan, Rakyat harus dibangunkan !

    Tjokroaminoto telah cukup dikenal dengan sikap-sikapnya yang menentang kebiasaan-kebiasaan feodal yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia dikenal sebagai seorang yang menganggap dirinya sama derajatnya dengan pihak manapun, baik orang Belanda maupun priyayi pejabat pemerintah.

    Pada zaman ketika orang pribumi harus menunduk dan duduk bersila saat berhadapan dengan para priyayi pejabat pemerintah kolonial Belanda, Tjokroaminoto dengan dramatis sekali berani melanggar kebiasaan itu. Ia memiliki keberanian untuk duduk di kursi ketika menemui seorang pejabat pemerintah. Ia bicara dengan tenang tanpa menundukkan kepala, bahkan pandangan matanya disorotkan dengan tajam. Ia duduk dengan santai sambil meletakkan sebelah kakinya pada kakinya yang lain.

    Ketika itu, dalam sebuah sidang, hakim Belanda bertanya: “Apakah Tuan Tjokro tahu berhadapan dengan siapa?” Hakim itu menukas lagi, “Tuang sedang berhadapan dengan Ketua Pengadilan Tinggi Belanda.” Tjokro menjawab tenang. “Tahukah Tuan sekarang duduk di hadapan siapa? Ketua Sentral Sarekat Islam Seluruh Indonesia.”


    Haji Agus Salim berkata, “Pada saatnya, potret itu berarti revolusi.” 

    H.O.S. Tjokroaminoto bergabung dengan Sarekat Islam dan memimpin Sarekat Islam (SI) sejak 1914. Pada tahun 1914, di Doenia Bergerak, Tjokro menulis sajak tentang perjuangan menuntut kesetaraan :

    Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai terlembut di dunia
    Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa
    Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
    Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.
    Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orangpun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas.
    Bahasamu terpuji halus diseluruh dunia, dan sopan pula.
    Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ongko.Kalu kau balikan, kau pun dianggap kurang ajar


    Sebagai pimpinan Sarekat Islam, Tjokroaminoto mampu memobilisasi massa sebanyak 2.500.000 yang terdiri dari pedagang, buruh dan petani yang tersebar di Jawa dan Sumatera serta beberapa pulau lainnya. Tak berlebihan bila SI dianggap sebagai organisasi perintis lahirnya pergerakan kebangsaan berskala nasional di Hindia Belanda (Indonesia). Bandingkan dengan Budi Oetomo yang beranggotakan 10 ribu orang priyayi Jawa; atau PKI yang hingga tahun 1938 punya anggota sebanyak 250 ribu orang.

    Karena luasnya pengaruh HOS Tjokroaminoto melampaui pengaruh raja-raja di jawa, Pemerintah Hindia Belanda menjulukinya sebagai "De Ongekroonde van Java" (Raja Jawa Tanpa Mahkota)

    Pada periode tahun 1912-1916, Tjokroaminoto dan para pemimpin SI terkesan bersikap lunak dan menghindari konfrontasi dengan pemerintah Belanda dan lebih fokus menggarap isu kesetaraan (equality), penentangan terhadap feodalisme dan menyadarkan rakyat bahwa mereka bukan "seperempat manusia".

    Namun, sejak 1916, sikap SI lebih radikal dalam menuntut kemerdekaan dengan mengusung gagasan 'zelfbestuur'. Di atas podium Kongres Sarekat Islam di Bandung pada 17-24 Juni 1916, Tjokroaminoto berorasi dengan nada tinggi.
    “Orang semakin lama semakin merasakan, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan...

    Tidaklah layak Hindia –Belanda diperintah oleh Holand, Zoals een landheer zijn percelen beheert (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makanan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya. Keadaan yang sekarang yaitu negri kita diperintah oleh suatu Staten-General yang begitu jauh tempatnya nun di sana…

    Dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggung jawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri….

    Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa kita...”


    Kongres Sarekat Islam 1916 merupakan suatu peristiwa dahsyat dalam sejarah kebangkitan kebangsaan Indonesia. Melalui pidato Tjokroaminoto untuk pertama kalinya lahir tuntutan untuk berpemerintahan sendiri untuk wilayah Hindia Belanda disaat pikiran merdeka belum pernah terbesit dalam mimpi kebanyakan rakyat Hindia Belanda.

    Tiga dekade berselang sejak Tjokroaminoto pertama kali melantangkan wacana zelfbestuur, atau 11 tahun setelah wafatnya, Soekarno menyatakan proklamasi kemerdekaan atas nama rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    (0)

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel