Sejarah Kopi Indonesia : Tiap Seruputnya Mengisahkan Pahitnya Derita Tanam Paksa

Minum kopi adalah bagian dari budaya Bangsa Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, kopi memiliki sejarah tersendiri, sejarah kegemilangan sekaligus sejarah pahit penderitaan petani perkebunan kopi padamasa kolonial.

    Sejarah Kopi Indonesia , Sejarah Kopi Nusantara, Sejarah Kopi Jawa
    Picture Arifarca on Pixabay
    Belakangan ini, kedai kopi tumbuh menjamur hampir merata di berbagai kota di Indonesia dengan konsep modern dan desain artistik. Nongkrong di kedai kopi sudah menjadi lifestyle para urban milenial.

    Sebenarnya, sebelum menjamur kedai kopi kekinian, masyarakat Indonesia telah lama mengenal warung kopi tradisional yang sederhana.

    “Nongkrong di warung kopi
    Nyentil sana dan sini
    Sekadar suara rakyat kecil
    Bukannya mau usil ....”


    Lagu yang dinyanyikan Dono, Kasino, dan Indro yang mengalun dengan jenaka itu akrab di telinga generasi tahun 80–90-an. Lirik lagunya bernada kritik sosial yang menggambarkan kebiasaan masyarakat Indonesia nongkrong di warung kopi sambil mengobrol bebas apa saja. Mulai topik ringan seputar kampung hingga diskusi panas seputar politik dengan ditemani sepiring pisang goreng hangat.

    ***

    Konon, sebelum masa kolonial, umat Islam Nusantara sudah mengenal kopi dari jemaah haji di tanah suci. Jauh sebelumnya, tradisi minum kopi sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab dan Turki. Diperkirakan, beberapa jemaah haji dari daerah Minang membawa biji kopi untuk ditanam.

    Hubungan dekat Kesultanan Aceh dan Kekhalifahan Ottoman Turki turut membuat budaya minum kopi menyebar di Aceh. Tentara Turki yang membantu Aceh melawan Portugis biasa mengonsumsi kopi sebagai energy drink. Kebiasaan itu menular kepada tentara Aceh dan orang-orang Aceh. Menurut beberapa sumber, potret kedai kopi tradisional di Aceh mirip-mirip dengan kedai kopi di Istambul tempo dulu.

    Legenda A Cup of Java

    Pada masa kolonial Belanda, tepatnya 1696, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn menerima biji kopi dari mertuanya yang bertugas di Malabar, India. Bibit kopi yang akhirnya ditanam di lahan pribadi Gubernur VOC di Batavia dan Cirebon itu adalah bibit kopi Arabika. Setelah menghasilkan buah, van Hoorn mengirim segenggam biji kopi ke Belanda. Setelah diteliti dan diujikembangkan dengan baik di laboratorium botani kerajaan, De Heeren Zeventien ( 17 direksi VOC ) menulis surat yang berisi saran agar pembudidayaan kopi menjadi perhatian serius dari Gubernur Jenderal van Hoorn.

    Pada akhir 1707, van Hoorn membalas saran De Heeren Zeventien dengan mengirim surat. Van Hoorn mengatakan, dia sudah membagikan tanaman kopi itu kepada beberapa kepala daerah pribumi di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon. Para kepala daerah akhirnya menanam biji kopi yang dibagikan sang Gubernur. Sayangnya, benih tanaman kopi Arabika itu ternyata tidak cocok untuk daerah dataran rendah. Panen pun gagal.

    Penanaman kemudian dipindahkan ke daerah-daerah yang lebih tinggi di perbukitan Karawang dan beberapa tempat yang lebih tinggi lagi. Hasilnya memuaskan. Pembudidayaan kopi Arabika, yang oleh pemerintah Belanda disebut Javakoffie (kopi Jawa) meluas dengan cepat terutama di dataran tinggi Priangan. Belanda juga memperluas areal budidaya kopi ke luar pulau Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

    Pada 1711, Bupati Cianjur menjadi penyetor pertama kopi Jawa ke VOC, sekitar empatkuintal kopi diekspor ke Amsterdam. Ekspor kopi perdana tersebut memecahkan rekor harga lelang di sana. Tingginya harga kopi membuat pembudidayaan kopi meluas. Untuk meningkatkan produksi kopi VOC mengadakan perjanjian dengan penguasa setempat yang isinya mewajibkan pribumi menanam kopi yang harus diserahkan ke VOC. Perjanjian ini dinamakan Preanger Stelsel atau Coffie Stelsel.

    Berkat Preanger Stelsel ini biji kopi berkualitas tinggi dari tanah Jawa bisa membanjiri Eropa. Pada 1726, kopi yang berasal dari pulau Jawa membanjiri benua Eropa mengalahkan kopi mocha dari Yaman yang sebelumnya menjadi penguasa pasar. Begitu terkenalnya kopi dari Jawa sehingga kata ‘Jawa’ menjadi istilah pengganti kata kopi : “A Cup of Java”.Begitu orang-orang Eropa menyebut secangkir kopi.

    Paradoks Kemasyhuran Jafacoffie

    Semacam paradoks, harumnya aroma kopi Jawa dan tingginya keuntungan dari komoditas kopi berkebalikan dengan nasib para petani. Para petani kopi di Priangan hidup menderita.

    VOC menganggap diri mereka bukan saja penguasa, tetapi juga pemilik dari lahan dan orang-orangnya. Pekerjaan tanam paksa kopi di Priangan melibatkan seluruh keluarga, bapak, ibu,serta anak-anaknya turut mengerjakan berbagai tugas mengolah lahan.

    Cerpen berbahasa Sunda karya Ahmad Bakri menggambarkan masa tanam paksa kopi di Priangan, “Si bapak mencabuti rumput dan memotong dahan pohon kopi, si ibu memetik kopi dan anak-anak mereka menangkap ulat dan cacing”.

    Setelah panen, petani harus mengantar hasil panennya ke gudang-gudang VOC. dan menerima berapa pun harga yang ditentukan oleh VOC.

    Kopi Willem Deandels

    Pada akhir abad ke-18 ada peristiwa penting di Eropa, terjadi revolusi Prancis, Napoleon Bonaparte diangkat sebagai Kaisar Prancis. Pada Januari 1795,Belanda jatuh ke tangan Prancis dan VOC dibubarkan pada 1800 karena pailit.

    Ternyata bubarnya VOC tak membuat penderitaan petani kopi berakhir. Tampuk kekuasaan beralih dari VOC ke tangan pemerintah Belanda. Pada 1800 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan setiap keluarga menanam 250 pohon kopibahkan pada 1802 dinaikkan menjadi 500 pohon kopi.

    Louis Napoleon sebagai penguasa baru di negeri Belanda mengirimkan Herman Willem Daendels ke Jawa. Rupanya Deandels juga terila-gila dengan kopi. Segera setelah kedatangannya pada 1806, Daendels mengumumkan Ordonansi Priangan yaitu kewajiban penanaman kopi di Jawa dan dilakukan dengan cara yang sama seperti di Priangan.

    Daendelsmemerintahkan agar setiap hasil panen langsung diserahkan kepada Bupati. Di Priangan, Daendels menghilangkan sistem bagi hasil pada para bupati dan menggantinya dengan sistem persentase pada bupati dan bawahannya. Berkat peran bupati hasil produksi kopi meningkat tajam. Pada 1810, panen kopi menghasilkan 120 ribu pikul. Di zaman Deandels, keringat para petani kini diperas habis oleh para bupati.

    Daendels membangunan jalan sepanjanag Anyer hingga Panarukan sepanjang 1.000 kmyang membentang di sepanjang utara Pulau Jawa. Selain untuk kepentingan militer, jalan itu dibuat untuk memudahkan transportasi komoditas pertanian ke kota terutama kopi. Pembangunan jalan itu dilakukan dengan sistem kerja rodi hingga menelan ribuan korban jiwa. Sebuah dokumen dari Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles pada 1811 menyebutkan jumlah korban akibat pembangunan itu adalah 12.000 orang. Diyakini jumlah korban lebih dari itu. Sebab, tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

    Derita Tanam Paksa Kopi

    Pada periode1825-1830 terjadi perang Jawa yang dikobarkan oleh Diponegoro. Perang selama lima tahun itu menyedot kas Pemerintah Hindia Belanda hingga terkuras habis. Untuk mengatasi kemelut ekonomi di Hindia Belanda, Raja William menunjuk Van den Bosch sebagai Gubernur Hindia Belanda.

    Terinspirasi suksesnya Preanger Stelsel pada zaman VOC, pada 1830 Van den Bosch menerapkan Cultuur Stelsel yang mewajibkan para petani menyediakan seperlima lahannya untuk ditanami komoditas yang laku di pasar Eropa. Van den Bosch menginstruksikan penanaman 40 juta pohon kopi per tahun. Penanamannya dibagi ke dalam daerah perbukitan di Jawa Barat,  JawaTengah, dan Jawa Timur. Tanaman ini wajib ditanam di dataran tinggi 1000-1500 meter di atas permukaan laut. Lahan tersebut bukan hanya jauh dari tempat tinggal para petani, tetapi mereka juga harus membabat hutan dahulu.

    Mengubah lahan hutan agar layak ditanami kopi menghabiskan waktu yang cukup lama dan menguras tenaga karena harus menebang pohon-pohon besar dan membersihkan lahan. Hal ini diperparah dengan lokasi lahan yang terpencil dan masih dihuni banyak binatang buas. Banyak penduduk yang sedang membuka lahan tewas dipatuk ular dan binatang buas.

    Kopi Jangung dan kopi Luwak

    Pada era tanam paksa , Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi. Bisa dibayangkan bagaimana saat itu masyarakat tak bisa menikmati kopi yang ditanam di tanah mereka. Kopi jadi barang mewah yang tak mampu dibeli. Akhirnya, biji-biji kopi sisa yang tentunya berkualitas buruk jadi alternatif untuk bisa disajikan sebagai minuman. Agar jumlahnya banyak, biji ini disangrai bersama jagung.

    Suatu hari pekerja perkebunan menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak.

    Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun menjadi kopi yang mahal sejak zaman kolonial. Berawal dari kisah pedih tanam paksa di masa kolonial tersebut, Kopi Luwak asal Jawa lahir dan berkembang menjadi legenda kopi ternikmat di dunia.

    Sistem tanam paksa ini memberi imbas yang luar biasa. Biaya murah yang diperoleh pemerintah kolonial untuk memperoleh kopi, membuat mereka mendapatkan untung yang tinggi. Pada 1856, ada 70 juta pohon kopi yang berbuah. Sementara itu para petani semakin diperas tenaganya.

    Variertas Kopi Indonesia

    Pada periode 1906-1908 terjadi penurunan produksi kopi di Jawa karena mewabah penyakit yang menyerang tanaman kopi Arabika. Untuk mengantisipasi kepunahan kopi Arabika di perkebunan pulau Jawa, pemerintah Belanda memutuskan untuk mengimpor benih kopi Liberika yang dipandang lebih tahan terhadap serangan hama. Setelah dibudidayakan, dalam beberapa tahun berikutnya, tanaman kopi Liberika ternyata juga ikut terkena wabah penyakit sehingga tidak ada perkebunan yang menguntungkan yang dapat dibuat dari kopi Liberika.

    Pada 1901 jenis kopi robusta mulai diperkenalkan di Indonesia. Benih kopi Robusta diperoleh dari perusahaan pembibitan L'Horticole Coliniale di Brussels, Belgia. Secara perlahan, jenis kopi Robusta akhirnya mulai banyak ditanam di perkebunan-perkebunan kopi di Jawa.

    Hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi di Indonesia didominasi jenis robusta. Dalam perdagangan komoditas kopi global, Indonesia merupakan penghasil kopi robusta terbesar dunia setelah Vietnam dan Brasil. Lebih dari 80% perkebunan kopi di Indonesia ditanami robusta, sekitar 17% ditanami arabika, sebagian kecil sisanya ditanami liberika dan excelsa.

    Melihat perjalanannya, biji hitam bernama kopi itu seolah membawa petaka yang pahit bagi sejarah Indonesia. Di sisi lain, derita panjang petani kopi pada masa kolonialisme telah mengantarkan manisnya kopi menjadi warisan dunia yang membanggakan Indonesia.

    Sudah ngopi?

    “Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan syahid/gugur.”

    Begitu Teuku Umar menyatakan keinginannya itu kepada Pang Laot dan pasukannya sehari sebelum bergerak ke Meulaboh. Namun, takdir berkata lain.Dia gugur setelah tertembak peluru pasukan Belanda di dadanya. Perjuangannya di medan perang harus berakhir pada malam menjelang 11 Februari 1899.

    Seandainya saja Teuku Umar tak tertembak, Beliau dan tangan kanannya, Pang Laot, mungkin akan minum bercangkir-cangkir kopi di Meulaboh. Ikut pula pasukannya. Mereka mungkin akan membahas taktik memerangi Belanda.

    Bila besok kita tak bisa jumpa untuk ngopi, kenanglah aku seperti Teuku Umar Johan yang gagah berani.
    (0)

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel