Bagaimana Media Sosial Bisa Mencitrakan Buruk Sebuah Layanan Publik ?

Tidak semua yang diberitakan buruk memang benar buruk adanya. Termasuk pemberitaan tentang layanan publik rumah sakit :-)

    Dark Abstract Background by Linnaea Mallete on Public Domain Pictures

    Zaman serba internet seperti sekarang ini memang banyak yang merubah kebiasaan manusia. Dari yang dulunya kebutuhan pokok manusia mungkin hanya untuk sandang pangan dan papan, tapi dengan hadirnya internet, maka masayarakat menjadikan informasi sebagai kebutuhan pokok yang lainnya. Ternyata haus akan informasi ini tidak hanya berdampak positif, tapi di sisi lain juga negatif jika dilakukan tanpa filter yang kuat.

    Harus disadari memang dengan internet yang datang bertahap dengan segala perangkat dan aplikasinya, memudahkan untuk satu orang berhubungan dengan yang lainnya baik secara pribadi dan jamak. Hal ini juga makin dipermudah dengan makin canggihnya sosial media yang bermunculan, sehingga apa pun yang muncul lebih dulu di media sosial tentang suatu hal tak jarang menjadi rujukan utama bagi pengguna media sosial itu.

    Karena itu jika yang pertama ada adalah informasi atau kabar baik, maka pengaruhnya pada masyarakat pengguna media sosial itu akan baik. Begitu juga sebaliknya, tidak jarang masayarakat kita menjadi salah persepsi dan penilaian terhadap suatu obyek, karena datangnya informasi yang negatif lebih dahulu, dan itu telah menjadi viral di masyarakat.

    Semestinya masyarakat kita harus mulai sadar, bahwa dengan adanya era internet yang marak dengan berbagai media sosial ini bukan hanya membawa kemudahan masyarakat untuk mendapatkan berbagai informasi dengan mudah, tapi di sisi lain secara tidak sadar mereka sering menerima informasi hanya dari satu sisi, bahkan dari status perorangan.

    Begitulah tapi memang yang biasa ada di berbagai media sosial. Kita tidak jarang menjumpai seseorang menuliskan keluhannya pribadi, tapi seakan apa yang ditulisnya itu mewakili banyak orang. Jika dikaji ulang mungkin ini juga efek psikologis dari menggunakan media sosial, medianya orang banyak. Jadi seakan-akan yang ditulis tidak peduli akan dibaca banyak orang. Tentu ini berbeda jika satu sama lain bertemu langsung di dunia nyata, tentu ada tepo sliro dan saling menghargai perasaan satu sama lain.

    Dan memang kenyataannya kini banyak gesekan timbul bukan hanya dari omongan, tapi dari salah tulis di media sosial. Karena memang dengan mudahnya satu pihak menuliskan sesuatu yang menurut dia menarik, tanpa harus memikirkan dulu apa dampaknya bagi pihak lain. Hal ini makin diperparah dengan kebiasaan pengguna media sosial, yang biasanya menerima berita langsung berkomentar, like bahkan share yang tidak jarang menjadikan sebuah berita menjadi makin viral.

    Dan itulah memang kelemahan masyarakat kita saat ini. Begitu banyak orang bahkan memang sebagian besar orang akan lebih banyak percaya dengan apa yang ada di dunia maya, dibanding melihat dan memastikan langsung apa yang ada di lapangan. Mungkin memang alasannya klise, ini adalah hal yang paling mudah dibanding harus mencari kebenarannya langsung yang tentunya akan memakan banyak waktu dan tenaga. Padahal kebiasaan yang terus berulang ini sering kali berdampak buruk bagi obyek yang diberitakan.

    Yang paling disayangkan adalah yang menjadi obyek ini bukan hanya perorangan, tapi juga instansi, lembaga dan apapun bentuknya yang sebenarnya itu didirikan untuk memberikan banyak manfaat pada masyarakat.

    Sebagai contoh misalnya, saat ini masyarakat tidak segan-segan untuk mengeluhkan apa-apa yang tidak cocok dengan hatinya untuk sebuah pelayanan publik seperti yang terjadi di sebuah rumah sakit. Apa yang diberitakan misalnya, antri untuk mengambil obat yang lama hingga 3 jam. Padahal bisa jadi di tempat lain pun hal itu terjadi, bahkan bisa lebih lama lagi. Apalagi untuk melayani pasien BPJS yang memang kian hari jumlahnya semakin banyak.
    (0)

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel