Bagaimana upaya Re-Branding Citra Rumah Sakit untuk Bisa Kembali Diterima di Hati Masyarakat ?

Untuk mengembalikan citra baiknya di hati masyarakat sebuah rumah sakit harus terus berbenah memberikan pelayanan terbaik di lapangan, juga tidak mengabaikan untuk membranding diri di media sosial

    Rebranding vs Refresh in fabrikbrands.com

    B

    elakangan mungkin kita sering membaca dan melihat di berbagai media dimana sebagian RS mendapat sikap yang kurang baik dari pasiennya, bahkan juga dari masyarakat (calon pasien) yang penyebabnya adalah sudah tidak adanya keperayaan kepada RS tersebut.

    Padahal jika hal ini terjadi, maka tidak akan maksimal proses penyembuhan pasien terhadap penyakitnya, karena apa-apa yang dilakukan tim medis di RS tersebut dianggap tidak profesional, bahkan dianggap membahayakan pasien. Bahkan hal ini pernah terjadi di sebuah RS, dimana secara SOP penyakit tertentu akan dilakukan procedure sample darah. Tapi sayangnya karena sudah tidak ada kepercayaan pada tindakan yang dilakukan RS, itu dipersepsikan oleh pasien bahwa tiap hari diambil darah untuk percobaan menyiksa pasien. Padahal jika ada rasa percaya, sebaliknya pasien mempersepsikan bahwa apa yang dilakukan RS adalah tindakan profesional karena dengan pasien setiap hari diambil darah, maka akan mempermudah pemeriksaan perkembangan penyakitnya.

    Dalam kondisi seperti ini memang harus diakui bahwa untuk mengembalikan kembali keperayaan pasien dan calon pasien memang bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti mustahil. Karena itu untuk mengembalikan lagi kepercayaan ini harus benar-benar dilakukan riset untuk mengembalikan kepercayaan publik.

    Karena itu penting Penting bagi humas RS untuk memanfaatkan sosial media, bukan hanya fokus pada mengisi konten tapi strategi pembangunan image RS itu sendiri. penting untuk mengfungsikan lagi media sosial sebagai sarana yang bisa dimanfaatkan untuk:

    1. Sebagai pendamping media konvensional dalam mempublikasikan suatu program atau kebijakan

    Selama ini biasanya Humas hanya menyampaikan program atau kebijakan RS di media konvensional, seperti televisi, radio dan media cetak. Maka perlu juga bagi Humas untuk menambah media sosial sebagai sarana tambahannya, karena memang pada kenyatannya masyarakat lebih dekat dengan handponenya dibanding media konvensional tadi.


    2. Sebagai pendamping media konvensional dalam program pemasaran yang efektif

    Dunia Kehumasan hari ini sudah banyak yang menggunakan medsos untuk melakukan pemasaran. Segala produk dapat dipasarkan melalui medsos, dan hasilnya cukup efektif. Kegiatan pemasaran di medsos ini juga nyatanya saat ini banyak dilakukan oleh pribadi maupun perusahaan untuk membranding usaha mereka. Facebook, Twitter dan Instagram bisa menjadi alternatif untuk membantu program pemasaran RS melalui media sosial.


    3. Sebagai media komunikasi dengan pelanggan

    Kemajuan teknologi informasi membuat masyarakat dalam hal ini pelanggan semakin tahu hak dan kewajibannya terhadap suatu produk tertentu. Misalnya untuk RS, mereka menjadi semakin kritis akan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan suatu RS terhadapnya. Hal inilah yang mendorong pelanggan untuk mengemukakan apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya kepada RS.

    Jika suatu RS memiliki akun medsos tertentu, maka pelanggan akan menuangkan saran dan kritiknya di akun tersebut, sehingga saran dan kritik pelanggan tidak disampaikan di media yang salah dan sulit untuk dikendalikan. Dengan akun tersebut juga RS dapat mengevaluasi setiap pelayanannya.

    Kritik atau komplain pelanggan yang terpusat menjadikan komplain tersebut semakin mudah di counter, semakin mudah dijelaskan kepada pelanggan, dan tidak akan menjalar ke media lain yang dapat menjadikan masalah semakin besar. Hal ini yang sebenarnya harus ada pada RS, sehingga tidak ada komentar negatif di media lain yang bukan milik RS, yang tentunya susah untuk mengendalikannya.


    4. Sebagai media edukasi masyarakat

    Selain informasi secara umum, beberapa instansi/perusahaan memiliki kewajiban sosial untuk melakukan edukasi tertentu sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada masyarakat. Dalam hal ini seharusnya RS bisa mengedukasikan mengenai pentingnya kesehatan kepada masyarakat. Sehingga mereka tahu dan sadar bahwa RS memang mempunyai kompetensi untuk itu, efeknya jika suatu saat mereka sakit mereka akan percaya bahwa apa yang dilakukan RS adalah yang terbaik untuk kesembuhan dari penyakit mereka.


    5. Membangun opini publik positif yang pada akhirnya terbentuk citra positif

    Salah satu atu goal utama dari pemanfaatan media sosal adalah membentuk Top Of Mind (TOM) di masyarakat. Semakin sering instansi atau perorangan menyapa masyarakat, semakin besar peluang instansi tersebut untuk menjadi TOM. Misal, semakin banyak Fan Pages suatu Rumah Sakit memiliki penggemar maka semakin banyak masyarakat yang dapat mengupdate segala informasi baik itu pemasaran, informasi, edukasi, dll, maka rumah sakit tersebut dapat selalu diingat oleh masyarakat.

    Efeknya adalah saat mereka bicara tentang RS, maka yang selalu diingat adalah RS tersebut. Jika suatu RS telah menjadi TOM di masyarakat maka RS akan mudah menggiring opini masyarakat terhadap RS itu. Jadilah antara tujuan RS dan keinginan masyarakat bisa berjalan bersama.

    Sumber:
    https://setitikmendunia.wordpress.com/2014/06/08/pemanfaatan-media-sosial-bagi-program-kehumasan/
    (3)

    3 Komentar untuk "Bagaimana upaya Re-Branding Citra Rumah Sakit untuk Bisa Kembali Diterima di Hati Masyarakat ?"

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel