Betapa 'Sexy'-nya Perempuan Jawa Sebelum Kartini

Masyarakat umumnya menganggap pada masa lalu kehidupan perempuan Jawa sangatlah terpasung. Perempuan tidak bebas mengungkapkan pemikiran dan cita-citanya.

    Gambar diambil dari http://hayudottie.staff.uns.ac.id

    P
    ada Agustus 1900, RA Kartini (1879-1904) menulis, “Kami perempuan Jawa terutama sekali wajib bersifat menurut dan menyerah. Kami harus seperti tanah liat yang dapat dibentuk sekehendak hati.” Pada masa itu, kedudukan wanita sangat dipengaruhi oleh feodalisme (kebangsawanan) dan adat. Hal itu menyebabkan, sejak kecil Kartini terbiasa melihat ibunya mlaku dodok ngesot, di depan suami, istri kedua, dan anak-anaknya sendiri.


    ***

    “Perhatian! Penulis merupakan seorang pengarang dan laskar perempuan yang menyelesaikan cerita dari Babad Tutur pada bulan Siyam, hari ke-22, dalam tahun Jimawal 1717 di Kota Surakarta.”

    Seorang perempuan Jawa yang tidak diketahui namanya, anggota korps prajurit estri Mangkunegaran menuliskan sebaris kalimat diatas dengan aksara jawa di halaman pertama buku hariannya.

    Bayangan kita mengenai wanita jawa yang lemah gemulai, menjadi kanca wingking saja akan buyar bila membaca lengkap catatan yang ditulis dengan aksara jawa dan arab pegon pada 303 lembar kertas kulit kayu tersebut.

    Buku harian yang menceritakan kehidupan rumah tangga dan pasukan Mangkunegaran ini “terbit” antara tahun 1781-1791, hampir seratus tahun sebelum pengarang Habis Gelap Terbitlah Terang lahir (1879).

    ***

    Joseph Donatien Boutet, seorang penyewa tanah kesultanan dari Prancis yang mengunjungi Surakarta pada masa Pakubuwono V (1820-1823) mengungkapkan kekagumannya terhadap para “Srikandi pengawal” yang ia lihat. Empat puluhan perempuan prajurit itu duduk berbaris di bawah takhta sang raja dengan masing-masing membawa senjata lengkap, sebilah keris, pedang, dan sepucuk bedil. Perempuan prajurit Jawa bukan sekadar pagar ayu, tapi benar-benar prajurit terlatih.

    ***

    Dalam peristiwa penyerbuan tentara Inggris ke keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Seorang letnan Skotlandia dari pasukan resimen infanteri Inggris, Hector Maclean, tertikam oleh seorang putri keraton yang hendak ia culik sebagai pampasan perang.

    ***

    Raden Ayu Yudokusumo putri Sultan Hamengku Buwono I merupakan satu dari beberapa panglima kavaleri senior Diponegoro di wilayah mancanegara timur bergabung dengan Tumenggung Sosrodilogo dalam perlawanan terhadap Belanda di pesisir utara antara 28 November 1827 - 9 Maret 1828.

    ***

    Nyai Ageng Serang putri bungsu Pangeran Natapraja, penguasa Serang yang juga teman seperjuangan Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) meniti karier militernya sejak usia 16 tahun dal;am korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Ia ikut angkat senjata, membantu putranya, Pangeran Serang II yang memimpin 500 prajurit di kawasan Serang-Demak pada bulan-bulan pertama Perang Jawa.

    ***

    Seorang veteran perang Napoleon dibuat terkejut melihat aksi prajurit perempuan dalam kunjungan pertamanya ke Yogyakarta pada 1809. William Daendels dibuat kagum dengan kepiawaian perempuan-perempuan dalam menunggang kuda dan menggunakan bedil di atasnya. Mengingat di tanah asalnya, kemampuan itu hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

    Marsekal Daendels (1808-1811) menulis catatan yang penuh sentimen male chauvinist (pemujaan kejantanan): “perempuan tidak punya tempat dalam penghormatan umum, dan terhadap perempuan hanya ada urusan pribadi!”. Ia menyadari bahwa perempuan Jawa sering begitu kuat menentukan arus politik dan budaya dan dengan sendirinya mengancam hasrat kolonialisme Eropa. Dalam catatan Serah Terima Jabatan (Memorie van Overgave), meski begitu didominasi kaum lelaki, terkadang ada catatan tokoh perempuan Jawa yang begitu berpengaruh.

    ***

    Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Jan Greeve yang mengunjungi Surakarta pada 31 Juli 1788 bersaksi bahwa para prajurit estri itu menyambut dirinya di loji Belanda dan Dalem Mangkunegaran dengan tembakan salvo yang teratur dan tepat.

    ***

    Toemenggoeng Rondo punya nama asli Raden Ayu Toemenggoeng (R.Ay.T.) Wilotikto merupakan Bupati Blora pada 1763 hingga 1767. Toemenggoeng Rondo adalah istri dari Raden Toemenggoeng (R.T.) Wilotikto. Pada 1762 diangkat bersama R.T. Djajeng Tirtonoto oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III menjadi bupati kembar karena berhasil menumpas pemberontakan Raden Guntur yang dirasakan sangat meresahkan warga dan mengancam wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta

    ***

    Raden Ayu Purboyoso (ca. 1756-1822) yang terkenal mahir aksara pegon (Jawi gundul) dan memiliki koleksi versi Jawa karya sastra Islam Arab.

    ***

    Ratu Ageng Tegalrejo, demikian beliau biasa dipanggil, mendampingi suaminya bergerilya 9 tahun melawan VOC (1746-1755), sampai melahirkan sang putra, calon Hamengkubuwono II di lereng Gunung Sindoro. Mahir memanah, tangkas berkuda, dan lihai memainkan aneka senjata; beliau pemgikut thariqah sattariyah, yang cendikia lagi dermawan; dengan penghasilannya di Tegalrejo dia berangkatkan banyak ‘ulama berhaji, dan dia selenggarakan majelis-majelis ilmu yang dipadati kaum santri.

    Sebuah buku 'Serat Menak Amir Ambyah' tentang perjuangan Sayyidina Hamzah  ditulis oleh pujangga Keraton Yogyakarta dan di halaman persembahannya tertulis untuk; “Prabu Wanodya / Kang Jumeneng Ratu Agung / Kang Ngedhaton Tegalreja”. Ditulis dalam huruf Arab Pegon dan berbahasa Jawa, dengan ketebalan 3.040 halaman.

    ***

    Retna Kencana putri Sultan Trenggono dikenal sebagai Ratu Kalinyamat pada 1550  mengirimkan 40 kapal perang yang mengangkut lebih dari 4.000 orang tentara ke Malaka. Di sana, armada Jepara bergabung dengan Persekutuan Melayu yang berkekuatan lebih dari 150 kapal untuk menyerang Portugis.

    ***

    Raden Ayu Notodiningrat, cucu Mangkunegoro II menggugat suaminya, Bupati Probolinggo, yang kasar dan tidak sopan.


    ***

    Putri Keraton Surakarta, Raden Ayu Sekar Kedaton, anak Sunan Pakubuwono VII, menolak lamaran bangsawan termasuk Pakubuwono IX.


    ***

    Peneliti sejarah Peter Carey mengatakan tahun-tahun sebelum meletusnya Perang Jawa (1825-1830), peran perempuan elite sangat menentukan di berbagai bidang, termasuk politik, perdagangan, militer, budaya, keluarga, dan kehidupan sosial istana Jawa tengah selatan.

    Betapa Sexynya perempuan Jawa sebelum penjajah membodohi bangsa kita !


    ***

    J
    uni dan Juli 1812 itu memang memilukan. Setelah nyaris dua pekan bombardemen oleh 40.000 serdadu Inggris di bawah pimpinan Kolonel Robert Rollo Gillespie, Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles membiarkan anak buahnya melakukan penjarahan besar-besaran di Keraton Yogyakarta. Emas dan perak berpeti-peti, berbagai benda seni, pusaka, perhiasan; bahkan di bawah todongan, kancing baju Sultan Hamengkubuwono II yang terbuat dari berlian dipreteli para tentara berseragam merah itu.

    Emas bisa dicari, permata bisa dikumpulkan. Kehilangan terbesar Keraton Yogyakarta agaknya adalah sumber peradabannya; 7.000 buku jarahan 1812 itu kini berada di British Library, belum termasuk yang ada di koleksi pribadi. Seperti Sungai Tigris menjadi merah-hitam karena darah pembantaian dan tinta buku yang dihanyutkan pada 1258 memusnahkan peradaban di Baghdad. 

    Sebagai jantung Jawa, Yogyakarta pada 1812 mengalami kemunduran parah dan lalu peradabannya, budayanya, politiknya, ekonominya, keseniannya mulai didikte penjajah.

    (0)

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel