2021 : IFI Menghadapi Era Disrupsi & Dinamika Multigenerasi

Saat ini Ikatan Fisioterapi Indonesia tengah mengalami tantangan 'gap generation' dan era disrupsi yang menuntut untuk cepat beradaptasi.

    Dokumentsi IFI : TITFI @Balikpapan_2019

    S
    epertinya kita semua sepakat kalau tiap generasi memiliki challenge atau tantangan yang berbeda. Dahulu, komunitas fisioterapi Indonesia hanya terdiri dari satu-dua generasi saja. Sehingga IFI hanya menghadapi anggota yang relatif homogen. Semua anggota di dalamnya cenderung tidak memiliki pembanding dan yang mereka lakukan ialah mengikuti jejak pendahulu mereka. Perbedaan pun menjadi tidak terlalu terasa. Masalah baru muncul kini, ketika komposisi fisioterapi Indonesa sudah terdiri dari empat generasi berbeda. 

    'Gap Generation' Fisioterapi Indonesia

    Jika didasarkan pada Generation Theory, saat ini ada empat generasi fisioterapi di Indonesia, yaitu Generasi Baby Boomers (1946-1960), Generasi X (1961-1980), Generasi Y (1981-1994), Generasi Z (1995-2010). Setiap generasi memiliki keunikannya masing-masing yang didasari oleh values (nilai-nilai) yang mengasah pengalaman hidupnya, seperti lingkungan, tantangan luar, pendidikan dan teknologi. Perbedaan pandangan dan perspektif sering kali menimbulkan masalah komunikasi yang memicu konflik. 

    Gesekan pemikiran adalah keniscayaan di komunitas fisioterapi Indonesia yang harus dihadapi. Jangan terlalu kaget bila perbedaan pendapat kian hari kian kompleks!

    Fakta sosiologi yang nyata saat ini adalah munculnya generasi Y dan Z yang memiliki pendidikan S1, Profesi bahkan S2, beberapa diantaranya lulusan luar negeri di usia yang lebih muda dari genersi X atau generasi diatasnya. 

    Pemimpin dan orgainisatoris IFI di setiap level harus menyadari, selain gesekan pemikiran dua kutub preferensi 'progresifisme vs konservatifisme ' di dalam komunitas fisioterapi Indonesia, by nature setiap organisasi yang mengelola multigenerasi niscaya akan mengalami dinamika antar generasi. 

    Tantangan IFI Di Era Disrupsi

    Industri 4.0 yang kian berkembang dan bergerak cepat menambah segala keruwetan ini. Kini, cara manusia hidup dan menikmati kehidupan sama sekali berbeda dengan era-era sebelumnya. Pandemi COVID-19 memiliki andil besar dalam mempercepat perubahan perilaku manusia di dunia. Oleh sejumlah ahli manajemen, perubahan besar dan mendasar itu disebut sebagai 'disrupsi'.

    Clayton M. Cristhensen dalam bukunya The Innovator Dilemma  menerangkan disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan. Dalam definisi lain dikatakan, "disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru".

    Berbeda dengan era revolusi Industri abad-abad sebelunya, dalam era disrupsi ini perubahan tidak terjadi secara bertahap. Perubahan pada era disrupsi kali ini lebih menyerupai ledakan gunung berapi yang meluluhlantakkan ekosistem lama dan menggantinya dengan eksosistem baru yang sama sekali berbeda.

    Tak ada yang tak terdampak disrupsi. Institusi bisnis adalah “korban” yang terdampak paling cepat. Puluhan perusahaan besar yang mapan tumbang dalam waktu singkat akibat muncul pesaing baru yang tak terramalkan sebelumnya. Bukan hanya sektor bisnis, sektor  kesehatan juga tak luput dari disrupsi. Melihat perkembangan Artificial Intelegence dan teknologi robotik yang banyak mengambil alih pekerjaan-pekerjaan di bidang kesehatan dan kedokteran, cepat atau lambat kita akan menyaksikan surprise - surprise yang tak terduga di bidang fisioterapi.

    Berubah Menyongsong Kehendak Zaman adalah Keniscayaan

    Sebagai organisasi profesi fisioterapi, IFI harus cepat beradaptasi dengan perubahan, karena efek disrupsi dapat mengubah segala hal, termasuk cara berprofesi. Hanya mereka yang paling adaptif terhadap perubahan-lah yang bisa survive. Tidak ada yang lestari di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. 

    Menghadapi era disrupsi kita butuh percepatan dalam mencetak fisioterapis yang skill-nya mempunyai kapasitas di bidang pemecahan masalah, berpikir kritis, kreativitas, kemampuan berkoordinasi, kemampuan emosional, pengambilan keputusan, berorientasi pelayanan, negosiasi, berpikir cepat dan adaptif.

    Mengelola perubahan adalah salah satu kompetensi penting bagi organisasi manapun. Untuk menghadapi kondisi disruptif seperti sekarang ini, IFI harus berorientasi masa depan, berpikir dan bertindak lebih cepat dari perubahan yang terjadi. 


    Tiga Hal Penting Menghadapi Era Disrupsi

    Bagaimana seharusnya organisasi menghadapi era disrupsi ini? Menurut Rheinald Kasali ada tiga hal penting untuk menghadapi era disrupsi, yaitu : 

    Pertama, organisasi tidak boleh berada di zona nyaman. Organisasi yang merasa sangat nyaman selalu berasumsi bahwa pelanggan mereka sudah sangat loyal. Padahal, ketika terjadi perubahan fundamental saat ini, perlu ditengok ulang lagi apakah terjadi pergeseran segmen konsumen yang bisa jadi berkarakter lain dengan konsumen lama.

    Kedua, organisasi tidak boleh takut mematikan (kanibalisasi) produk sendiri dan membuat produk baru, jika produk lama tersebut tidak sesuai dengan perubahan. Cara ini mungkin terlihat ekstrim, tetapi harus dilakukan agar efektif dalam beradaptasi dengan perubahan.

    Ketiga, organisasi terus-menerus membentuk ulang atau menciptakan inovasi dengan memodifikasi yang sudah ada dalam bentuk lain atau bahkan menciptakan hal baru.

    Salah satu kunci untuk menghadapi kondisi ini terletak pada keahlian dan agility dari pemimpin organisasi. Jika tahun 2021 adalah tahun demokrasi bagi fisioterapi Indonesia, maka siapapun pemimpin yang terpilih dalam Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia di Yogyakarta nanti akan menghadapi dinamika multigenerasi dan era disrupsi. 

    Bersiaplah !  

    Bacaan :






    (0)

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel