Design Thinking: Prinsip dan Penerapannya

Anda pernah mendengar istilah Design Thinking? Ya, istilah yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan pemikiran desain ini mungkin terdengar akrab di telinga para UX Designer. Pemikiran ini dikenal sebagai pola pikir untuk menyelesaikan permasalahan dengan fokus pada manusia (pengguna).

Pengertian dan Prinsip Pemikiran Design

Secara mudahnya, pola pemikiran desain lebih mengacu pada proses berpikir dari seorang desainer. Hal ini karena desainer pada dasarnya membuat produk menjadi lebih menarik di mata konsumen sehingga ia akan memikirkan berbagai cara supaya apa yang didesain dapat memenuhi kebutuhan penggunanya.

Adapun proses pemikiran ini sejatinya tidak hanya bermanfaat bagi para desainer, namun juga bagi banyak pihak. Entah itu pemilik bisnis, anggota organisasi, hingga perusahaan besar sekalipun. Setidaknya ada 5 prinsip pada pemikiran ini, yakni.

1. Human-centered

Pemikiran desain senantiasa berprinsip untuk fokus pada pengguna. Prinsip ini didasarkan pada manfaat dan solusi apa yang harus dimiliki oleh sebuah produk atas berbagai masalah yang dihadapi oleh konsumen. Produk juga wajib dapat memenuhi kebutuhan penggunanya dengan baik

2. Kolaboratif

Suatu pemikiran desain juga memiliki prinsip pada hal mendorong kerja sama yang baik kantar anggota tim yang memiliki berbagai perspektif atau sudut pandang yang berbeda-beda.

3. Kreativitas

Dari pandangan dan prinsip dasar yang disampaikan sebelumnya, suatu pemikiran desain juga tidak terlepas dari yang namanya kreativitas. Kita tentu harus kreatif dalam hal menemukan berbagai solusi dan dapat melihat suatu masalah dari sejumlah sudut pandang.

4. Iteratif

Atau pengulangan, di mana sebuah Design Thinking dilakukan dengan proses yang berulang sampai kemudian menemukan solusi yang tepat.

5. Prototype-driven

Dari prinsip ini diketahui bahwa untuk merealisasikan ide dan solusi, diperlukan pembuatan suatu prototipe. Prototipe inilah yang akan diciptakan guna mendapatkan berbagai feedback sehingga dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang ada.

Tahapan dan Penerapannya

Dari sejumlah prinsip di atas, dapat diketahui bahwa untuk menerapkan suatu pemikiran desain diperlukan beberapa tahapan penting. Menurut berbagai sumber, penerapan pemikiran tersebut dilakukan melalui lima hal, yakni:

1. Empathise (empati)

Merupakan pendekatan yang dilakukan guna memahami apa yang menjadi kebutuhan pengguna. Dengan kata lain, kita melihat suatu hal dari sudut pandang mereka. Caranya yakni dengan observasi, riset, hingga memanfaatkan beberapa tools untuk mengetahui kebutuhan dan tren.

2. Define (menentukan)

Langkah selanjutnya yakni mendefinisikan masalah dengan mengumpulkan berbagai informasi dari observasi tersebut. Ketika melakukan definisi tersebut, tentu kita harus tetap fokus pada kebutuhan pengguna sehingga masalah benar-benar datang dari pihak pengguna.

3. Ideate (ber-ide)

Apabila sudah mengetahui kebutuhan dari para pengguna dan melakukan identifikasi masalah, maka saatnya Anda mengumpulkan berbagai solusi. Pada tahapan ini, kumpulkan solusi sebanyak mungkin menggunakan cara brainstorming atau pembuatan mindmap bersama tim.

4. Prototype (prototipe)

Tahapan selanjutnya yakni membuat suatu prototipe atau model produk yang akan dijadikan sampel secara nyata untuk diujikan. Dengan prototipe inilah, Anda akan tahu model atau versi produk seperti apa yang paling tepat untuk pengguna.

5. Testing (uji coba)

Jika prototipe terbaik sudah dibuat, maka langkah akhir dalam suatu Design Thinking yakni melakukan pengujian. Pengujian ini dilakukan terhadap pengguna dengan melihat kembali apakah produk tersebut sudah menjawab kebutuhan mereka. Jangan lupa melihat bagaimana reaksi pengguna sehingga nantinya dapat mendeteksi suatu masalah sejak awal.

Wahyu Kurniawan

Seorang blogger, pembaca , penulis artikel dan seorang fisioterapis

More Reading

Post navigation

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *